Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Manusia Ada 4 Jenis, Pilih Mana?

Posted: 15 Apr 2014 06:26 AM PDT

Siapa di antara kita yang tidak ingin menjadi orang kaya yang bergelimang harta? Tua muda, lelaki perempuan, berkulit hitam atau putih, semuanya memiliki keinginan serupa.

Salahkah keinginan tersebut? Tidak juga! Tetapi sayangnya, banyak di antara kita lupa untuk berusaha memiliki 'pengawal' yang membantu kita menjaga harta tersebut; agar tidak berubah menjadi petaka. Pengawal setia tersebut adalah ilmu agama.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menjelaskan,

"مَثَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مَثَلُ أَرْبَعَةِ نَفَرٍ (1) رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًا، فَهُوَ يَعْمَلُ بِهِ فِي مَالِهِ يُنْفِقُهُ فِي حَقِّهِ. (2)  وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يُؤْتِهِ مَالًا، فَهُوَ يَقُولُ: "لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ مَالِ هَذَا؛ عَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ". قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فَهُمَا فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ". (3) وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا وَلَمْ يُؤْتِهِ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِيهِ يُنْفِقُهُ فِي غَيْرِ حَقِّهِ. (4) وَرَجُلٌ لَمْ يُؤْتِهِ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا، فَهُوَ يَقُولُ: "لَوْ كَانَ لِي مَالٌ مِثْلُ هَذَا؛ عَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ". قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فَهُمَا فِي الْوِزْرِ سَوَاءٌ".

"Perumpamaan umat ini bagaikan empat orang. Orang pertama: adalah seorang yangdikaruniai Allah harta dan ilmu. Dengan ilmunya ia mengatur harta sehingga bisa mengalokasikannya dengan benar. Orang kedua: adalah seorang yang dikaruniai Allah ilmu, namun tidak dikaruniai harta. Dia berkata, "Andaikan aku memiliki harta seperti fulan (orang pertama), niscaya akan kugunakan seperti apa yang dilakukannya". Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda, "Pahala dua orang tersebut sama".

Orang ketiga: adalah seorang yang dikaruniai Allah harta namun tidak dikaruniai ilmu. Dia bertindak asal-asalan dalam hartanya, menghamburkannya tanpa aturan. Orang keempat:seorang yang tidak dikaruniai Allah harta maupun ilmu. Ia berujar, "Andaikan aku memiliki harta seperti fulan (orang ketiga); niscaya akan kugunakan seperti apa yang dilakukannya". Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam berkomentar, "Dosa keduanya sama". (HR. Ahmad dari Abu Kabsyah al-Anmâry radhiyallahu 'anhu  dan dinyatakan sahih oleh al-Albany).

Dalam hadits di atas, Nabiyullah shallallahu'alaihi wasallam menerangkan pada kita bagaimana efek dari ilmu agama terhadap sikap seseorang kepada hartanya.

Orang kaya yang berilmu, berkat bekal ilmu yang dimilikinya, ia bisa memanfaatkan hartanya untuk mengantarkan ke surga. Ini adalah orang pertama. Adapun orang yang miskin harta namun memiliki ilmu agama, diapun juga bisa memanfaatkan ilmu tersebut sebagai kendaraan untuk masuk surga. Sebab ia berpeluang meraih pahala yang sama dengan orang pertama, berkat niat baik yang ada dalam hatinya. Inilah orang kedua.

Adapun orang ketiga, adalah golongan yang malang, walaupun kelihatannya ia hidup sejahtera. Sebab ia gagal menjadikan hartanya sebagai tunggangan menuju surga. Ia serampangan dalam mengalokasikan hartanya, karena keminiman ilmu agamanya.

Yang paling naas nasibnya adalah orang keempat. Sudah miskin harta, miskin ilmu agama pula. Di dunianya ia hidup dalam kesusahan, dan kelak di akhiratnya ia sengsara masuk ke dalam neraka. Na'udzubillah min dzalik

Nah, memilih manakah Anda? Yang penting, jangan sampai memilih menjadi orang ketiga, apalagi keempat. Minimal jadilah orang kedua. Syukur-syukur Anda bisa menjadi orang pertama. Selamat memilih…

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.

Artikel Muslim.Or.Id

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Fikih Azan (6): Azan bagi Shalat yang Luput

Posted: 13 Apr 2014 11:56 PM PDT

Azan itu wajib bagi shalat lima waktu, baik shalat tersebut adalah shalat yang dikerjakaan di waktunya (adaa-an) atau shalat tersebut diqodho (qodho-an).

Di antara dalilnya adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertidur dari Shalat Shubuh dalam safar beliau, beliau baru bangun setelah matahari terbit, lalu beliau memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan dan iqamah. (HR. Muslim no. 1099, dari Abu Qatadah dalam hadits yang panjang). Hadits ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom.

Shalat yang luput tersebut pun tetap dikumandangkan azan berdasarkan keumuman hadits,

فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ

Jika waktu shalat telah tiba, salah seorang di antara kalian hendaknya mengumandangkan azan untuk kalian. ” (HR. Bukhari no. 631 dan Muslim no. 674). Hadits ini mencakup azan pada shalat di waktunya dan juga bagi shalat yang luput.

Namun jika di suatu daerah sudah dikumandangkan azan untuk shalat, lalu ada sekelompok orang yang tertidur hingga keluar waktu semisal saat matahari sudah terbit, maka azan ketika itu tidak wajib. Saat itu cukup digunakan azan umum yang sudah dikumandangkan. Karena azan di daerah itu sudah menghasilkan hukum kifayah, gugur kewajiban bagi yang lain. Akan tetapi, untuk yang telat tersebut, cukup bagi mereka mengumandangkan iqamah. (Lihat Syarhul Mumthi’, 2: 46).

Tentang hadits Abu Qotadah yang disebutkan di atas, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berkata, “Jika telat shalat karena ketiduran, maka kewajiban azan tidaklah gugur. Azan tetap ada meskipun pada shalat yang diqodho. Ini jika sekelompok orang yang telat, maka mereka mengumandangkan azan. Namun jika sudah dikumandangkan azan di negeri tersebut, maka azan itu sudah cukup.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikrom, 2: 171, terbitan Madarul Wathon).

Semoga bermanfaat. Hanyalah Allah yang memberi taufik.

 

Referensi:

Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah.

Syarhul Mumthi’, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1422 H.

Fathu Dzil Jalali wal Ikrom, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan pertama, tahun 1426 H.

 

Disusun selepas Shalat Zhuhur, 14 Jumadats Tsaniyah 1435 H di Warak, Girisekar

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Taufik Hanya Dari Allah

Posted: 13 Apr 2014 08:00 PM PDT

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, setiap hari kita berdoa di dalam sholat kita 'ihdinash shirathal mustaqim' yang artinya; "Tunjukilah kami jalan yang lurus."

Hidayah atau petunjuk itu -sebagaimana diterangkan para ulama- terbagi dua; hidayah berupa ilmu dan pemahaman dan hidayah berupa kesadaran dan taufik untuk melakukan amalan. Kedua macam hidayah ini selalu kita butuhkan.

Hidayah yang pertama bisa kita peroleh melalui perantara siapa saja, baik dari ustadz, kiyai, guru, atau teman dan orang tua kita. Adapun hidayah yang kedua adalah khusus dimiliki dan hanya bisa diberikan oleh Allah semata. Sebagaimana dalam kisah yang masyhur tentang meninggalnya paman Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu Abu Thalib yang tidak mau mengucapkan kalimat syahadat.

Nikmat hidayah ini -baik hidayah ilmu ataupun hidayah amalan- adalah sebesar-besar nikmat, dan yang terbesar diantara keduanya adalah nikmat hidayah berupa amalan alias hidayah taufik dan kesadaran. Sehingga dengan hidayah inilah kita bisa menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan.

Allah ta'ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Beribadah kepada Allah adalah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sementara seorang hamba tidak akan bisa mewujudkan hal itu kecuali dengan petunjuk dan bantuan dari-Nya. Oleh sebab itu, setiap hari pula kita membaca 'Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in' [hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan]; yang di dalamnya terkandung perintah untuk beribadah dan berdoa kepada Allah serta bertawakal dan memohon pertolongan kepada-Nya semata, laa haula wa laa quwwata illa billaah…

Tanpa bantuan dan pertolongan Allah, kita tidak bisa melakukan apa-apa. Apakah itu sholat, puasa, zakat, haji, sedekah, dakwah, dan lain sebagainya. Semuanya bisa terlaksana dengan rahmat dan taufik dari Allah kepada kita. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits sahih dan populer dari 'Umar bin Khaththab radhiyallahu'anhu yang mengisahkan sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sungguh, Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada bayinya."

Apabila demikian, maka seharusnya ketaatan dan amalan yang kita lakukan semakin membuat kita merendah dan tunduk kepada Allah serta rendah hati kepada sesama. Demikianlah sifat Ibadurrahman; hamba-hamba pilihan yang diistimewakan Allah.

Sebagaimana sosok Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang disebutkan dalam riwayat bahwa beliau dalam sehari bisa beristighfar sampai seratus kali. Beliau juga mengajarkan doa memohon ampunan kepada sahabat terbaik yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu'anhu, 'Allahumma inni zalamtu nafsi zulman katsiiran… faghfirlii maghfiratan min 'indika, dst' [Ya Allah, aku telah menzalimi diriku dengan banyak kezaliman... oleh sebab itu ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu...]

Demikian pula generasi terbaik umat ini -yaitu para sahabat- sebagaimana dikisahkan oleh seorang tabi'in Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah, "Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sementara mereka semuanya merasa takut dirinya terjangkit kemunafikan."

Ibrahim at-Taimi rahimahullah -seorang ulama dan ahli ibadah diantara tabi'in- bahkan mengatakan, "Tidaklah aku menghadapkan ucapanku kepada amalanku melainkan aku khawatir menjadi orang yang didustakan." Maksudnya, karena berlainan antara ucapan dengan perbuatannya, hal itu beliau ucapkan dengan penuh ketawadhu'an. Padahal, siapakah mereka dan siapa pula kita? Tentu kita lebih pantas khawatir daripada mereka…

Karena itulah, semestinya semakin dalam ilmu yang kita peroleh dan semakin luas pengetahuan agama yang kita serap, maka rasa takut kepada Allah di dalam hati kita pun haruslah semakin besar. Bukankah Allah telah berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Hanya saja merasa takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya yaitu para ulama." (QS. Fathir: 28)

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu mengatakan, "Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakikat ilmu itu adalah khosy-yah/rasa takut kepada Allah." Tidaklah kita ragukan bahwa menimba ilmu harus melalui riwayat -yaitu riwayat hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam- dan juga kitab-kitab ulama. Meskipun demikian, semata-mata banyaknya hafalan dan koleksi buku bukanlah standar dan parameter keilmuan yang sebenarnya.

Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah pernah mengatakan, "Seorang yang berilmu tetap dalam keadaan bodoh selama dia belum mengamalkan ilmunya, apabila dia telah mengamalkannya barulah dia menjadi seorang yang benar-benar 'alim."

Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka niscaya Allah pahamkan kepadanya urusan agama." (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu'awiyah radhiyallahu'anhu)

Yang dimaksud dengan 'fikih' atau kepahaman agama yang menjadi ciri kebaikan seorang bukanlah semata-mata keluasan ilmu dan pengetahuan, akan tetapi ilmu yang membuahkan amalan, ketakwaan, dan rasa takut kepada Allah. Oleh sebab itu, ketika salah seorang salaf yang bernama Sa'ad bin Ibrahimrahimahullah ditanya, "Siapakah orang yang paling fakih diantara ulama di Madinah?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang paling bertakwa diantara mereka."

Oleh sebab itu pula, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk berdoa -seusai sholat subuh- dengan membaca, 'Allahumma inni as'aluka 'ilman naafi'an wa rizqan thayyiban wa 'amalan mutaqobbalan' [Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima]

Dari sini pula, kita bisa memahami bagaimana gelar 'tabi'in terbaik' diberikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada seorang lelaki yang bersahaja, ikhlas, dan sangat berbakti kepada ibunya, yaitu Uwais al-Qarni rahimahullah.

Meskipun demikian, ini semua tidaklah mengecilkan arti menimba ilmu dan mengajarkannya. Bahkan Imam Bukhari rahimahullah telah menegaskan di dalam Sahihnya 'Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan' yang menunjukkan betapa pentingnya ilmu dalam melandasi setiap ucapan dan perbuatan insan.

Bahkan, sahabat Abud Darda' radhiyallahu'anhu pernah berkata, "Barangsiapa yang menilai bahwa berangkat di pagi hari atau di sore hari untuk menimba ilmu bukan termasuk jihad, maka sungguh akal dan pikirannya kurang beres."

Bahkan, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah -atau ulama yang lain- juga menyatakan bahwa 'menyampaikan as-Sunnah itu jauh lebih utama -dan lebih dahsyat pengaruhnya- daripada melontarkan anak panah kepada musuh'. Allahu akbar!

Demikian pula Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menyatakan dalam ucapan beliau yang terkenal bahwa 'orang yang membantah ahli bid'ah adalah mujahid'.

Dari sinilah kita bisa memahami urgensi ilmu dan urgensi amalan. Oleh sebab itu sebagian salaf ketika ditanya, "Manakah yang lebih kamu sukai ilmu atau amal?" Beliau menjawab, "Tidak boleh meninggalkan ilmu dengan dalih untuk fokus beramal, dan tidak boleh meninggalkan amal dengan dalih fokus untuk berilmu."

Inilah yang sebenarnya telah kita ikrarkan di dalam sholat kita dalam bacaan 'shirathalladzina an'amta 'alaihim' [yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka]. Sebab nikmat yang dimaksud di sini sebagaimana diterangkan para ulama adalah nikmat ilmu dan amalan. Tanpa ilmu, maka kita akan mengikuti kesesatan kaum Nasrani, dan tanpa amal kita akan meniti jejak kaum Yahudi yang dimurkai.

Apabila kita cermati dalam diri kita, maka akan kita dapati bahwa penyimpangan manusia bersumber dari kedua celah ini; yaitu teledor dalam menimba ilmu, atau teledor dari mengamalkannya. Kedua pintu besar inilah yang mengantarkan manusia kepada kehancuran, penyesalan, dan kerugian.

Oleh sebab itu Allah ta'ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran." (QS. al-'Ashr: 1-3)

Iman tidak akan terwujud dengan benar tanpa ilmu. Demikian pula amal, tidak bisa menjadi salih sekedar bermodal niat yang baik, namun ia juga harus benar yaitu sesuai tuntunan. Untuk bisa ikhlas dan mengikuti tuntunan pun tidak bisa dilepaskan dari ilmu. Betapa banyak orang yang mengira dirinya ikhlas, namun tidak ikhlas. Betapa banyak orang yang mengira dirinya mengikuti sunnah, namun ternyata mengekor bid'ah.

Demikian pula, ilmu yang tidak membuahkan amal laksana pohon yang tak berbuah. Ilmu yang tidak melahirkan ketakwaan justru akan berujung bencana. Bukankah termasuk orang yang akan dinyalakan api neraka dengan membakar mereka pertama-tama adalah seorang ahli ilmu yang tidak mengamalkan ilmunya?

Dari situlah, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan resep dari surat al-'Ashr di atas, bahwa 'saling menasihati dalam kebenaran' adalah obat untuk mengatasi fitnah syubhat/kerancuan pemahaman, sedangkan 'saling menasihati dalam kesabaran' adalah obat untuk menyembuhkan penyakit keinginan yang terlarang/fitnah syahwat. Akibat fitnah syubhat, manusia akan terseret dalam kesesatan ala Nasrani. Akibat fitnah syahwat, manusia akan tenggelam dalam penyimpangan ala Yahudi.

Inilah sebagian diantara rahasia taufik dan hidayah yang tersembunyi dan banyak tidak diketahui. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya. Wallahu waliyyut taufiq.

Penulis: Ari Wahyudi

Artikel Muslim.Or.Id

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Fatwa Ulama: Jika Anjing Menjilat Selain Bejana, Apakah Dicuci 7 Kali?

Posted: 12 Apr 2014 11:04 PM PDT

Fatwa Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini

Soal:

Hadits:

إذا وَلَغ الكلبُ في الإناءِ فاغسِلوه سبعَ مراتٍ، وعَفِّروه الثامنةَ في التُّراب

jika anjing menjilat dalam bejana maka cucilah sebanyak 7 kali, berilah pasir pada yang kedelapan” (HR. Muslim 280)

apakah ini khusus jika anjing menjilat bejana* ataukah menjilat semua hal?

Jawab: 

Sebagian orang mengatakan bahwa mencuci bejana dengan semua media pencuci (seperti sabun dan semacamnya) sudah bisa membersihkan bejana tersebut. Ini adalah pernyataan yang tidak benar. Dalam hal ini, harus menggunakan pasir.

Dan hadits ini khusus bila anjing menjilat bejana. Maka jika anjing menyentuh pakaian seseorang dengan kulitnya atau lidahnya apakah perlu dicuci dengan 7 kali cucian dan salah satunya dengan pasir? Tidak perlu**), karena masalah ini khusus pada bejana bukan yang lainnya.

ٍSumber: http://ar.islamway.net/fatwa/55659

 

 

*) bejana atau al ina-u atau al aniyah yaitu segala tempat yang digunakan untuk menaruh makanan dan minuman, seperti gelas, piring, atau semacamnya.

**) maksud beliau tidak perlu dicuci 7x namun tetap dicuci seperti biasa karena itu najis

 

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslim.Or.Id

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Hadits Dhaif dan Palsu: Keutamaan Ziarah Kubur Orang Tua Di Hari Jum’at

Posted: 11 Apr 2014 10:52 PM PDT

Ziarah kubur merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan dalam agama Islam. Karena ia mempunyai hikmah, keutamaan dan manfaat bagi orang yang berziarah maupun orang mati yang diziarahi. Di antara hikmah disyariatkannya ziarah kubur sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih ialah:

  1. Untuk mengucapkan salam dan mendoakan kebaikan serta memohon ampunan kepada Allah bagi orang-orang mati dari kaum muslimin, agar mereka dibebaskan dari siksa kubur, dan diberi nikmat di dalam kubur.
  2. Untuk mengingat kematian dan kehidupan akhirat, sehingga tidak terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia.
  3. Dalam rangka melunakkan hati yang keras dan sombong, dan lain sebagainya.

Manfaat dan hikmah tersebut dapat diperoleh oleh seorang muslim kapan saja ia berkeinginan melakukan ziarah kubur tanpa mengkhususkan hari dan kesempatan tertentu,  dan di kuburan siapa saja dari pekuburan kaum muslimin. Asalkan tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap tuntunan Islam dalam berziarah kubur, seperti melakukan safar (wisata ziarah) ke pekuburan yang jauh dari tempat tinggalnya, atau melakukan ritual-ritual seperti membaca Al-Quran, shalat, dzikir berjama'ah dan selainnya dalam rangka mencari berkah.

Meskipun sudah sedemikian jelas dan sempurna tuntunan agama Islam dalam ziara kubur, namun tetap saja ada sebagian kaum muslimin yang berbuat kesalahan dan pelanggaran terhadap tuntunan tersebut. Ini tiada lain disebabkan kebodohan mereka tentang agama Islam yang benar dan murni, dan banyaknya para juru dakwah yang mengajarkan kesesatan dan kebatilan kepada pengikut dan jama'ahnya demi memperoleh kepentingan dunia, serta tersebarnya buku-buku yang memuat hadits-hadits lemah dan palsu, baik yang berkaitan dengan ziarah kubur maupun ritual lainnya. sehingga kebanyakan mereka tidak sadar bahwa ziarah kubur dan amal ibadah yang mereka lakukan itu sangat bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.

Di antara hadits-hadits lemah dan palsu yang tersebar di tengah kaum muslimin ialah hadits yang menjelaskan keutamaan menziarahi kuburan orang tua atau kerbat pada hari dan malam Jumat. di antara keutamaan-keutamaannya ialah:

  1. Berziarah ke kuburan orang tua pada hari Jumat lalu membaca surat Yasin di sisinya akan menghapuskan dosa-dosa.
  2. Siapa yang melakukannya akan dianggap sebagai anak yangberbakti pada kedua orang tuanya.
  3. Siapa yang banyak menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau kerabatnya hingga meninggal dunia, maka kuburannya akan diziarahi oleh para malaikat.
  4. Siapa yang melakukannya akan memperoleh pahala umrah atau Haji Mabrur.

Berikut ini akan saya sebutkan hadits-haditsnya beserta derajatnya dan perkataan para ulama hadits yang menjelaskan sisi kelemahan dan kepalsuannya.

Hadits Pertama

قَالَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ  رحمه الله : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الضَّحَّاكِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أََبِي عَاصِمِ ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ خَالِدٍ الأَصْبَهَانِيُّ ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زِيَادَ ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ الطَّائِفِيُّ ، عَنْ هِشَامٍ بن عُرْوَة ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْعَائِشَةَ ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ ، قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : " مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَرَأَ يس غُفِرَ لَهُ .

Abu Ahmad Ibnu Adiy berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Adh-Dhohhak bin 'Amr bin Abi 'Ashim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Kholid Al-Ashbahani, ia berkata; telah menceritakan kepada kami 'Amr bin Ziyad, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim Ath-Tha-ifi, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, ia berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang berziarah ke kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada hari jum'at, lalu ia membaca surat Yasin maka (dosa-dosanya) akan diampuni (oleh Allah, pent)"

(Diriwayatkan oleh Ibnu 'Ady dalam Al-Kamil Fi Dhu'afa'i Ar-RijalV/151).

Hadits Kedua

قال أبو الشيخ الأصبهاني رحمه الله : حَدَّثَنَـا أَبُو عَلِيِّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، قال : ثنا أَبُو مَسْعُودٍ يَزِيدُ بْنُ خَالِدٍ ، قال : ثنا عَمْرُو بْنُ زِيَادٍ الْبَقَالَيُّ الْخُرَاسَانِيُّ بِجُنْدِيسَابُورَ ، قال : ثنـا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : " مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا ، فَقَرَأَ عِنْدَهُمَا أَوْ عِنْدَهُ : يس ، غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ ذَلِكَ آيَةً أَوْ حَرْفًا "

Abu –Asy-Syaikh Al-Ashbahani berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ali bin Ibrahim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mas'ud, Yazid bin Khalid, ia berkata; telah menceritakan kepada kami 'Amr bin Ziyad Al-Baqqoly Al-Khurosani di Jundisabur, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, dari Abu Bakar, ia berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:  "Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap hari Jum'at, lalu ia membaca surat Yasin di sisi (kuburan) keduanya atau salah satunya, niscaya (dosa-dosanya) diampuni sebanyak bilangan ayat atau huruf (yang dibacanya, pent)."

(Diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani di dalamThobaqot Al-Muhadditsin III/125 no.751).

Derajat Hadits

Hadits-hadits tersebut di atas derajatnya PALSU (maudhu'). Karena di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama 'Amr bin Ziyad. Dia seorang perawi yang pendusta dan pemalsu hadits.

Abu Ahmad Ibnu 'Adiy berkata: "Hadits dengan sanad ini derajatnya batil, tidak ada asal-usulnya. Dan 'Amr bin Ziyad meriwayatkan beberapa hadits selain hadits ini. Diantaranya ada hadits yang ia mencurinya dari para perawi yang terpercaya, dan ada pula hadits-hadits palsu. Dan dialah orang yang tertuduh memalsukannya." (lihat Al-Kamil Fi Dhu'afa'i Ar-Rijal V/151).

Imam Ad-Daruquthni berkata: "Dia memalsukan hadits." (lihat Mizan Al-I'tidal karya Adz-Dzahabi III/261).

Abu Zur'ah Ar-Razi berkata:"Dia seorang pendusta." (lihat Adh-Dhu'afa' karya Al-'Uqaily III/274).
Hadits Ketiga

قال الطبراني رحمه الله : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ النُّعْمَانِ بْنِ شِبْلٍ ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبِي ، قَالَ : حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَمِّ أَبِي ، عَنْ يَحْيَى بْنِ الْعَلاءِ الرَّازِيِّ ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ أَبِي أُمَيَّةَ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ غُفِرَ لَهُ ، وَكُتِبَ بَرًّا "

Imam Ath-Thabrani rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin An-Nu'man bin Asy-Syibl, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin An-Nu'man bin Abdurrahman (paman ayahku), dari Yahya bin Al-'Ala' Ar-Rozi, dari Abdul Karim Abu Umayyah, dari Mujahid, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya setiap hari Jum'at, niscaya akan diampuni baginya dan dicatat sebagai bakti (kepada keduanya)."

(Diriwayatkan oleh At-Thabrani di dalam Al-Mu'jam Al-Ausath VI/175 no.6114, dan di dalam Al-Mu'jam Ash-Shaghir II/160 no.955. dan diriwayatkan pula oleh As-Suyuthi di dalam kitab Al-La'ali' Al-Mashnu'ah Fi Al-Ahadits Al-Maudhu'ah II/440 no.2526, dan selainnya).

Derajat Hadits

Hadits ini derajatnya PALSU (maudhu'). Sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha'ifah wa Al-Maudhu'ah I/125 no.49. Hal ini dikarenakan di dalam sanadnya terdapat empat orang perowi hadits yang bermasalah sebagaimana para ulama hadits telah memperbincangkannya, yaitu:

1. Muhammad bin Muhammad bin An-Nu'man

Dia seorang perowi yang ditinggalkan riwayat haditsnya dan tertuduh sebagai pemalsu hadits.

Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya: "Ad-Daruquthni telah mencela dan menuduhnya sebagai pemalsu hadits." (Lihat Mizan Al-I'tidal IV/26)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqolani berkata: "Dia seorang perowi yang matruk(ditinggalkan riwayat haditsnya)." (Lihat Taqrib At-Tahdzib I/505).

2. Muhammad bin An-Nu'man

Dia seorang perawi yang tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya.

Imam adz-Dzahabi berkata tentangnya: "Ia seorang perowi yang majhul (tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya)." (Lihat Mizan Al-I'tidal IV/56)

Al-'Uqaili berkata: "Muhammad bin An-Nu'man seorang perowi yang Majhul (tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya)." (Lihat kitab Adh-Dhu'afa' IV/146).

3. Yahya bin al-'Ala' Ar-Razi (al-Bajali)

Dia seorang perawi yang sangat lemah karena tertuduh memalsukan hadits dan riwayatnya tidak dapat diterima dan dijadikan hujah.

Al-'Uqaili berkata tentangnya: "Yahya adalah seorang perawi yang matruk(ditinggalkan riwayatnya)." (lihat kitab Adh-Dhu'afa' IV/146).

Yahya bin Ma'in berkata: "Yahya bin Al-'Ala' bukan seorang perawi hadits yangtsiqoh (terpercaya)." (lihat kitab Adh-Dhu'afa' karya Al-'Uqaili IV/437).

Abu Hatim Ar-Rozi berkata: "Dia bukan seorang perowi hadits yang kuat (hafalannya, pent)".

Ad-Daruquthni berkata: "Dia seorang perawi yang matruk (ditinggalkan riwayat haditsnya)".

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Dia pernah memalsukan hadits." (Lihat perkataan ini semua di dalam kitab Mizan Al-I'tidal karya imam Adz-Dzahabi IV/397).

Ibnu Hibban berkata: "Tidak boleh berhujjah dengan (hadits)nya." (Lihat kitab Al-Majruhin III/115).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani berkata: "Dia seorang perawi yang tertuduh memalsukan hadits." (Lihat Taqrib At-Tahdzib I/595).

3. Abdul karim Abu Umayyah

Dia seorang perowi yang Dha'if (lemah).

Ibnu Hibban berkata tentangnya: "Dia seorang perawi yang sering lupa dan banyak kesalahan yang fatal dalam meriwayatkan hadits." (Lihat kitab Al-Majruhin II/145).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Abdul Karim Abu Umayyah tidak ada apa-apanya, dia menyerupai perowi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya)." (Lihat Al-Jarhu wa At-Ta'dil karya Ibnu Abu Hatim VI/60).

Yahya bin ma'in berkata: "Abdul Karim Abu Umayyah tidak ada apa-apanya."

Ayyub As-Sakhtiyani berkata: "Dia bukan seorang perawi yang tsiqah(terpercaya)." (Lihat kitab Al-Majruhin II/145).

Hadits Keempat

قَالَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ رحمه الله : ثنا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصٍ السَّعْدِيُّ ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الْوَزْدُولِيُّ ، ثنا خَاقَانُ بْنُ الأَهْتَمِ السَّعْدِيُّ ، ثنا أَبُو مُقَاتِلٍ السَّمَرْقَنْدِيُّ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : " مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبِيهِ أَوْ أُمِّهِ أَوْ عَمَّتِهِ أَوْ خَالَتِهِ أَوْ أَحَدُ قَرَابَاتِهِ كَانَتْ لَهُ حَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ ، وَمَنْ كَانَ زَائِرًا لَهُمَا حَتَّى يَمُوتَ زَارَتِ الْمَلائِكَةُ قَبْرَهُ " .

Abu Ahmad Ibnu 'Adiy rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hafsh As-Sa'di, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa Al-Wazduli, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Khaqan bin Al-Ahtam As-Sa'di, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Muqatil As-Samarqandi, dari Ubaidillah, dari Nafi', dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menziarahi kuburan ayahnya atau ibunya, atau saudara perempuan ayah atau ibunya (baca: bibi), atau salah seorang kerabatnya, maka ia akan memperoleh pahala haji mabrur. Dan barangsiapa menziarahi kuburan kedua orang tuanya hingga ia meninggal dunia, niscaya para malaikat akan menziarahi kuburannya."

(Diriwayatkan oleh Ibnu 'Adiy di dalam kitab Al-Kamil Fi Dhu'afa Ar-Rijal II/393 no.2260. dan diriwayatkan pula oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al-Maudhu'aat III/240 no.1714, dan As-Suyuthi di dalam kitab Al-La'ali' Al-Mashnu'ah Fi Al-Ahadits Al-Maudhu'ah II/440 no.2527, dan selainnya).

Derajat Hadits

Hadits ini derajatnya DHA'IF JIDDAN (sangat lemah), karena di dalam sanadnya ada seorang perowi yang bernama (Hafsh bin Salm, pent) Abu Muqotil As-Samarqandi. Dia seorang perowi yang matruk (ditinggalkan riwayat haditsnya).

Ibnu Hibban berkata tentangnya: "Abu Muqotil As-Samarqandi, namanya Hafsh bin salm, ia seorang yang rajin ibadah, akan tetapi meriwayatkan hadits-hadits mungkar yang mana (ulama hadits) siapa pun yang mencatat hadits dapat mengetahui bahwa hadits-hadits yang diriwayatkannya tidak mempunyai dasar yang dapat dijadikan rujukan."

Abdurrahman bin Mahdi berkata: "Tidak boleh meriwayatkan hadits darinya." (Lihat kitab Al-Majruhin I/256)

Imam Adz-Dzahabi berkata: "Qutaibah menganggapnya sebagai perowi hadits yang sangat lemah, dan (Abdurrahman) bin Mahdi mendustakannya." (Lihat Mizan Al-I'tidal I/557)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata: "Waki' (bin Al-Jarrah Al-Kufi, pent) mendustakannya, dan As-Sulaimani mengatakan, bahwa dia termasuk dalam barisan orang yang memalsukan hadits." (Lihat Tahdzib At-Tahdzib II/342).

Demikianlah beberapa hadits dhaif dan palsu tentang keutamaan menziarahi kuburan orang tua dan kerabat yang dapat saya kumpulkan dan susun. Semoga Allah ta'ala senantiasa membimbing kita semua ke jalan yang benar dan diridhoi-Nya, serta memberikan kepada kita taufiq dan kemudahan untuk tetap istiqomah dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran-Nya yang bersumber dari Al-Quran Al-Karim dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang shahih hingga kematian menjemput kita. Semoga artikel ini menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Amin ya Robbal alamin.

***

Penulis: Ustadz Muhammad Wasitho, Lc., MA.

Artikel abufawaz.wordpress.com dipublish ulang oleh Muslim.Or.Id

Dosa Menyontek Saat Ujian

Posted: 11 Apr 2014 05:41 PM PDT

Sebentar lagi adik-adik kita yang duduk di bangku SMA akan menjalani Ujian Nasional (UN). Budaya jelek yang masih laris di tengah-tengah mereka adalah menyontek atau membawa “kepekan” kertas berisi rangkuman saat masuk ke ruang ujian.

Islam Melarang Berbuat Curang dan Berbohong

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

Barangsiapa yang menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR. Muslim no. 101, dari Abu Hurairah).

Hadits di atas ada kisahnya ketika seorang pedagang mengelabui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak jujur dalam jual belinya. Dari Abu Hurairah, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ « مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ». قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, "Apa ini wahai pemilik makanan?" Sang pemiliknya menjawab, "Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami." (HR. Muslim no. 102)

Ini berarti setiap orang yang menipu, berbohong, berbuat curang, mengelabui dikatakan oleh Nabi bukanlah termasuk golongan beliau. Artinya, diancam melakukan dosa besar. Menyontek pun demikian.

Akibat Berbuat Curang Saat Ujian

Dalam hadits dari sahabat 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta.  Ibnu Mas'ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta." (HR. Muslim no. 2607)

Dalam hadits lainnya disebutkan tiga tanda munafik,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar" (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Hadits ini menerangkan tanda munafik, yang memiliki sifat tersebut berarti serupa dengan munafik atau berperangai seperti kelakuan munafik. Karena yang dimaksud munafik adalah yang ia tampakkan berbeda dengan yang disembunyikan. Pengertian munafik ini terdapat pada orang yang memiliki tanda-tanda tersebut" (Syarh Muslim, 2: 47).

Akibat mencontek pun dapat dirasakan jangka pendek. Siswa menjadi tidak pede dengan jawabannya. Padahal barangkali jawabannya lebih benar daripada milik temannya. Menyontek juga membahayakan diri sendiri karena bila ketahuan guru, bisa dipastikan nilai 0. Bagi yang dicontek, tidak menyesalkah bila yang menyontek mendapat hasil ujian yang lebih tinggi daripada Anda yang dicontek? Artinya, kerjasama saat di ‘medan perang’ ujian adalah kesia-siaan, karena teman Anda hanya memanfaatkan diri Anda, dan Anda tidak sadar telah dimanfaatkan. Hal ini sering terjadi. Yang namanya kompetisi, maka setiap peserta harus bersaing, bukannya malah bekerja sama. Karena yang namanya juara itu hanya dimiliki oleh satu orang, bukan tim / kolektif.

Adapun bahaya jangka panjang seperti kata pepatah, “Siapa yang menanam, dia akan menuai hasilnya kelak.” Kalau itu adalah kejelekan yang ditanam, maka tunggu hasil jeleknya kelak. Bila seorang siswa terbiasa menyontek, maka kebiasaan itulah yang akan membentuk diri. Beberapa karakter yang dapat ‘dihasilkan’ dari kegiatan menyontek antara lain: mengambil milik orang lain tanpa ijin, menyepelekan, senang jalan pintas dan malas berusaha keras, dan kehalalan pekerjaan dipertanyakan. Bisa dipastikan, saat siswa sudah dewasa dan hidup sendiri, tabiat-tabiat hasil perilaku menyontek mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mencuri, korupsi, manajemen buruk, pemalas tapi ingin jabatan dan pedapatan tinggi.

Berakibat Buruk pada Ijazah dari Hasil Contekan

Akibat menyontek itu sendiri yaitu jika pekerjaan diperoleh dari ijazah hasil menyontek, maka kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

Seorang hamba boleh jadi terhalang rizki untuknya karena dosa yang ia perbuat." (HR. Ahmad 5: 282, sanadnya dhoif sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Syaikh Sholeh Al Munajjid ditanya, “Ada orang yang bekerja dengan sebab ijazah sarjana yang palsu. Ada juga yang memiliki ijazah sarjana yang asli namun pernah menyontek pada salah satu ujian semesteran. Ada juga yang melengkapi persyaratan kerja berupa ijazah ketrampilan atau profesi palsu. Mereka semua telah bekerja dan menguasai pekerjaannya dengan baik. Apa yang harus dilakukan mereka bertiga setelah mereka bertaubat? Perlu diketahui bahwa sebagian di antara mereka PNS namun ada juga yang bekerja di perusahaan swasta.”

Pertanyaan di atas telah kami sampaikan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan jawaban beliau adalah sebagai berikut, "Jika pondasi rusak maka bangunannya tentu rusak. Kewajiban tiga jenis orang di atas adalah mengulang ujian untuk mendapatkan ijazah yang dengan sebab ijazah tersebut mereka bisa mendapatkan gaji. Namun seandainya saat ujian semester terakhir orang tersebut tidak menyontek dan menyontek hanya dilakukan pada semester-semester sebelumnya maka aku berharap orang tersebut tidak berdosa disebabkan gaji yang didapatkan dengan ijazah semacam itu".

Pertanyaan, "Namun nilai yang diberikan di ijazah atau di transkip nilai adalah nilai untuk semua mata kuliah yang diajarkan selama masa belajar".

Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, "Jika demikian orang tersebut tidak boleh menerima gajinya sehingga dia mengulang semua ujian tanpa contekkan".

Pertanyaan, "Namun realitanya, andai orang tersebut menghadap ke pihak universitas dan menyampaikan keinginannya untuk melakukan ujian ulang maka pihak universitas akan mengatakan bahwa sistem pembelajaran yang ada tidak mengizinkan hal semacam itu".

Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, "Jika demikian hendaknya orang tersebut keluar dari tempat kerjanya kemudian mencari pekerjaan baru sesuai dengan ijazah sekolah yang tidak tercemar dengan menyontek atau melakukan kecurangan ketika ujian semisal ijazah SMA-nya".

Pertanyaan, "Bagaimana jika pegawai tersebut mengatakan bahwa dia telah menguasai pekerjaan dengan baik dan kemampuannya dalam bekerja menyebabkan dia berhak untuk bekerja meski tidak memiliki ijazah?"

Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, "Jika demikian, hendaknya dia melapor ke bagian personalia tempat dia bekerja dan menyampaikan bahwa realita senyatanya dari ijazahnya adalah demikian dan demikian. Jika pihak tempat dia bekerja mengizinkan orang tersebut untuk tetap bekerja di tempat tersebut dengan pertimbangan bahwa dia telah menguasai pekerjaan dengan baik maka aku berharap moga dia tidak berdosa jika tetap bekerja di tempat tersebut". (Sumber: Ustadzaris.com yang diterjemahkan dari Saaid.Net)

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pernah ditanya, “Ada seseorang yang bekerja dengan ijazah namun saat ujian ia telah berbuat curang (bohong) dan berhasil meraih ijazah tersebut. Adapun saat ini ia bekerja dengan baik karena hasil dari ijazah tersebut. Apakah gajinya itu halal atau haram?”

Syaikh Ibnu Baz menjawab, “Tidak mengapa gajinya tersebut insya Allah. Namun ia punya kewajiban untuk bertaubat karena dahulu telah berbuat curang saat ujian. Pekerjaan yang ia tempuh saat ini tidaklah bermasalah. Namun ia telah berdosa karena melakukan kecurangan di masa silam. Kewajibannya adalah bertaubat kepada Allah dari perbuatan tersebut.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 31: 19).

Namun pengasuh Fatwa Islamweb mengatakan setelah menyebutkan fatwa di atas, “Hal ini berbeda jika pekerjaan tersebut disyaratkan harus dengan ijazah yang sah (yang benar-benar valid dari hasil usaha sendiri, bukan berbuat curang). Jika dipersyaratkan ijazah seperti itu, maka ia tidak boleh mengajukan lamaran pada pekerjaan seperti tadi. Karena setiap muslim harus memenuhi perjanjian yang telah ia sepakati. (Sumber: Fatwa.Islamweb)

Mending Nilai Pas-Pasan Tetapi Jujur

Mending nilai pas-pasan daripada berbuat curang dan berbohong dengan menyontek. Prinsip inilah yang harus ditanamkan oleh orang tua pada anak-anaknya. Harusnya orang tua mengajarkan kepada anak-anak supaya jujur dan mencari ridho Allah.

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah menuliskan surat kepada Mu'awiyah. Isinya sebagai berikut,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

Barangsiapa mencari ridho Allah sedangkan manusia murka ketika itu, maka Allah akan bereskan urusannya dengan manusia yang murka tersebut. Akan tetapi barangsiapa mencari ridho manusia, namun membuat Allah murka, maka Dia akan serahkan orang tersebut kepada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Begitu pula anak harus pahami bahwa membahagiakan orang tua dengan lulus dalam ujian tidak mesti dengan jalan yang diharamkan, tempuhlah jalan yang Allah ridhoi.

Semoga Allah memudahkan adik-adik kita yang sebentar lagi menempuh ujian nasional. Moga Allah mendatangkan kemudahan dan juga memberikan taufik kepada mereka untuk berlaku jujur dan menjauhi kecurangan.

@ Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Sabtu, 12 Jumadats Tsaniyah 1435 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Memakai Sorban Disunnahkan?

Posted: 11 Apr 2014 01:05 AM PDT

Sorban atau serban atau turban adalah salah satu jenis pakaian yang dikenakan di kepala, biasanya berupa kain yang digelung atau diikat di kepala. Dalam bahasa arab disebut imamah. Yang sejenis dengan imamah juga ghuthrah dan syimagh. Ghuthrah biasanya berwarna putih, di pakai di atas peci. Sedangkan syimagh itu mirip seperti ghuthrah, namun ada corak-corak merah.

sorban

Tidak diragukan lagi bahwa sorban dan sejenisnya ini awalnya berasal dari budaya Arab. Namun yang menjadi masalah sekarang, apakah memakai sorban ini dikatakan pakaian yang Islami? Karena jika kita katakan memakai sorban atau imamah adalah pakaian Islami artinya ini dianjurkan dan diajarkan oleh Islam. Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah dalam salah satu ceramahnya pernah mengatakan bahwa, "sesuatu yang dinisbatkan kepada Islam artinya ia dia diajarkan oleh Islam atau memiliki landasan dari Islam”. Dan apakah memakai sorban ini lebih utama dan dinilai sebagai ibadah yang berpahala?

Hadits-Hadits Imamah

Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasa memakai imamah. Diantaranya sahabat ‘Amr bin Harits menyatakan:

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ خطب الناسَ وعليه عمامةٌ سوداءُ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dengan memakai sorban hitam di kepalanya” (HR. Muslim 1359)

Demikian juga hadits mengenai mengusap imamah ketika wudhu, dari Al Mughirah bin Syu’bah beliau mengatakan:

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ توضأ . فمسح بناصيتِه . وعلى العمامَةِ . وعلى الخُفَّينِ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berwudhu beliau mengusap jidatnya dan imamah-nya serta mengusap kedua khuf-nya” (HR. Muslim 274)

Juga hadits dari Abu Sa’id Al Khudri mengenai doa memakai baju baru:

كان رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إذا استجدّ ثوبا سمّاهُ باسمهِ عمامةً أو قميصا أو رداءً ثم يقول اللهمّ لكَ الحمدُ أن كسوتنِيهِ أسألكُ خيرهُ وخيرَ ما صُنِعَ لهُ وأعوذُ بكَ من شرّهِ وشرّ ما صُنِعَ لهُ

“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam jika memakai pakaian baru, beliau menamainya, baik itu imamah, gamis atau rida, kemudian berdoa: ”Ya Allah segala puji bagi-Mu atas apa yang engkau pakaikan padaku ini. Aku memohon kebaikan darinya dan dari apa yang dibuatnya. Dan aku memohon perlindungan dari kejelekannya dan kejelekan yang dibuatnya” (HR. At Tirmidzi 1767, ia berkata: “hasan gharib shahih”)

dan hadits-hadits lainnya.

Hukum Memakai Imamah

Pada asalnya, hukum suatu model pakaian adalah mubah-mubah saja. Namun mengingat adanya beberapa hadits yang menyebutkan kebiasaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memakai imamah, para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya apakah mubah saja ataukah sunnah? Sebagian ulama menyatakan hukumnya sunnah, dalam rangka meneladani Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun yang rajih, hukum memakai imamah adalah mubah saja, tidak sampai sunnah dan tidak bernilai ibadah. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memakai imamah hanya sekedar kebiasaan atau adat orang setempat, bukan dalam rangka taqarrub atau ibadah. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menyatakan, “Imamah, paling maksimal bisa jadi hukumnya mustahab (sunnah). Namun yang rajih, memakai imamah adalah termasuk sunnah 'adah (adat kebiasaan), bukan sunnah ibadah (Silsilah Adh Dha'ifah, 1/253, dinukil dari Ikhtiyarat Imam Al Albani, 480).

Apakah Memakai Imamah Lebih Utama?

Jika seseorang tinggal di daerah yang mayoritas masyarakatnya biasa memakai sorban atau sejenisnya, atau jika tidak memakai sorban di daerah tersebut malah jadi perhatian orang-orang, maka lebih utama memakai sorban. Adapun jika masyarakat setempat tidak biasa dengan sorban, maka ketika itu tidak utama memakai sorban, karena membuat pemakainya menjadi perhatian sehingga termasuk dalam ancaman pakaian syuhrah. Sebagaimana hadits:

من لبِسَ ثوبَ شُهرةٍ في الدُّنيا ألبسَه اللَّهُ ثوبَ مذلَّةٍ يومَ القيامةِ

barangsiapa memakai pakaian syuhrah di dunia, Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan di hari kiamat” (HR. Ahmad 9/87. Ahmad Syakir menyatakan: “shahih”).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, “Memakai imamah bukanlah sunnah. Bukan sunnah muakkadah ataupun sunnah ghayru muakkadah. Karena Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam dahulu memakainya dalam rangka mengikuti adat pakaian yang dikenakan orang setempat pada waktu itu. Oleh karena itu tidak ada satu huruf pun dari hadits yang memerintahkannya. Maka memakai imamah termasuk perkara adat kebiasaan yang biasa dilakukan orang-orang. Seseorang memakainya dalam rangka supaya tidak keluar dari kebiasaan orang setempat, sehingga kalau memakai selain imamah, pakaiannya malah menjadi pakaian syuhrah. Jika orang-orang setempat tidak biasa menggunakan imamah maka jangan memakainya. Inilah pendapat yang rajih dalam masalah imamah” (dinukil dari Fatawa IslamWeb no. 138986).

Memakai imamah di daerah yang masyarakat biasa memakainya itu lebih utama, dalam rangka menyelisihi orang kafir. Sehingga dari penampilan saja bisa terbedakan mana orang kafir dan mana orang Muslim. Syaikh Al Albani menyatakan, “Seorang Muslim lebih butuh untuk memakai imamah di luar shalat daripada di dalam shalat, Karena imamah adalah bentuk syiar kaum Muslimin yang membedakan mereka dengan orang kafir. Lebih lagi di zaman ini, dimana model pakaian kaum Mu'minin tercampur baur dengan orang kafir” (Silsilah Adh Dha'ifah, 1/254, dinukil dari Ikhtiyarat Imam Al Albani, 480).

Hukum Ghuthrah, Syimagh dan Penutup Kepala Lainnya

Lalu bagaimana hukum ghuthrah, syimagh dan penutup kepala lainnya yang ada dimasing-masing daerah?

Syaikh Musthafa Al 'Adawi menjelaskan, “ghuthrah disebut juga khimar, yaitu penutup kepala yang umum dipakai (orang Arab dan Mesir). Dan ada hadits bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam ketika wudhu beliau mengusap khimarnya. Apakah khimar di sini adalah imamah ataukah sekedar sesuatu yang menutupi kepala? Jawabnya, semuanya memungkinkan. Maka intinya, memakai ghuthrah hukumnya mubah saja”. (Sumber: http://www.mostafaaladwy.com/play-6587.html).

Dari penjelasan Syaikh Musthafa di atas, dapat diambil faidah hukum memakai ghutrah atau juga syimagh dan juga penutup kepala lainnya itu sama dengan hukum imamah. Yaitu jika itu merupakan pakaian yang biasa dipakai masyarakat setempat, hukumnya mubah. Tentunya selama tidak melanggar aturan syariat, semisal tidak meniru ciri khas orang kafir, tidak menyerupai wanita dan lainnya. Dan jika menyelisihi kebiasaan masyarakat setempat atau membuat pemakainya jadi perhatian orang, maka makruh atau bahkan bisa haram karena termasuk pakaian syuhrah.

Wabillahi at taufiq wa sadaad.

 

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslim.Or.Id

Pelajarilah Dahulu Adab dan Akhlak

Posted: 10 Apr 2014 06:03 PM PDT

Terlalu banyak menggeluti ilmu diin sampai lupa mempelajari adab. Lihat saja sebagian kita, sudah mapan ilmunya, banyak mempelajari tauhid, fikih dan hadits, namun tingkah laku kita terhadap orang tua, kerabat, tetangga dan saudara muslim lainnya bahkan terhadap guru sendiri jauh dari yang dituntunkan oleh para salaf.

Coba lihat saja kelakuan sebagian kita terhadap orang yang beda pemahaman, padahal masih dalam tataran ijtihadiyah. Yang terlihat adalah watak keras, tak mau mengalah, sampai menganggap pendapat hanya boleh satu saja tidak boleh berbilang. Ujung-ujungnya punya menyesatkan, menghizbikan dan mengatakan sesat seseorang.

Padahal para ulama sudah mengingatkan untuk tidak meninggalkan mempelajari masalah adab dan akhlak.

Namun barangkali kita lupa?

Barangkali kita terlalu ingin cepat-cepat bisa kuasai ilmu yang lebih tinggi?

Atau niatan dalam belajar yang sudah berbeda, hanya untuk mendebat orang lain?

Pelajarilah Adab Sebelum Mempelajari Ilmu

Ketahuilah bahwa ulama salaf sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Guru penulis, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”

Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya.

Ibnul Mubarok berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Ibnu Sirin berkata,

كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم

“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”

Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok,

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث

“Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,

ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” -

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini. Imam Abu Hanifah berkata,

الْحِكَايَاتُ عَنْ الْعُلَمَاءِ وَمُجَالَسَتِهِمْ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ الْفِقْهِ لِأَنَّهَا آدَابُ الْقَوْمِ وَأَخْلَاقُهُمْ

“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka." (Al Madkhol, 1: 164)

Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. 'Umar bin 'Abdul 'Aziz berkata,

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat" Kata Ibnu Rajab, "Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya" (Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, 1: 291).

Yang kita saksikan di tengah-tengah kita, "Talk more, do less (banyak bicara, sedikit amalan)".

Berbeda Pendapat Bukan Berarti Mesti Bermusuhan

Sungguh mengagumkan apa yang dikatakan oleh ulama besar semacam Imam Syafi'i kepada Yunus Ash Shadafiy -nama kunyahnya Abu Musa-. Imam Syafi’i berkata,

يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ

“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?" (Siyar A’lamin Nubala’, 10: 16).

Berdoalah Agar Memiliki Adab dan Akhlak yang Mulia

Dari Ziyad bin 'Ilaqoh dari pamannya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca do'a,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

“Allahumma inni a'udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a'maali wal ahwaa' [artinya: Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar]." (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih)

Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya,

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Allahummahdinii li ahsanil akhlaaqi laa yahdi li-ahsanihaa illa anta, washrif ‘anni sayyi-ahaa, laa yashrif ‘anni sayyi-ahaa illa anta [artinya: Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau].” (HR. Muslim no. 771, dari ‘Ali bin Abi Tholib)

أسأل الله أن يزرقنا الأدب وحسن الخلق

Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar mengaruniakan pada kami adab dan akhlak yang mulia.

 

Referensi:

Ta’zhimul ‘Ilmi, Syaikh Sholeh bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, Muqorrorot Barnamij Muhimmatil ‘Ilmi.

Siyar A’laamin Nubala’, Imam Adz Dzahabi, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-11, tahun 1422 H, jilid ke-10.

Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Tahqiq: Syaikh Syu'aib Al Arnauth dan Syaikh Ibrahim Yajus, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan kesepuluh, tahun 1432 H.

Al Madkhol, Mawqi' Al Islam, Maktabah Asy Syamilah

http://majles.alukah.net/t17143/

Disusun di pagi hari penuh berkah di Pesantren DS Gunungkidul, 11 Jumadats Tsaniyah 1435 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah


Nasehat Pemilu 2014

Posted: 08 Apr 2014 05:46 PM PDT

Mengingat hari Rabu tanggal 9 April , negara Indonesia akan mengadakan hajatan besar yaitu Pemilu untuk memilih anggota dewan legislatif, yang akan disusul kemudian pemilu pada 9 Juli 2014 untuk memilih capres dan cawapres. Maka dengan bertawakkal kepada Allah, kami ingin menyampaikan beberapa point penting, yang kita berdoa kepada Allah agar menjadikan untaian kata nasehat ini ikhlas mengharapkan pahala Allah dan menginginkan kemaslahatan bagi para hamba:

PERTAMA

Sesungguhnya sistem demokrasi bertentangan dengan hukum Islam, karena:

Hukum dan undang-undang adalah hak mutlak Allah. Manusia boleh membuat peraturan dan undang-undang selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Demokrasi dibangun di atas partai politik yang merupakan sumber perpecahan dan permusuhan, sangat bertentangan dengan agama Islam yang menganjurkan persatuan dan melarang perpecahan.

Sistem demokrasi memiliki kebebasan yang seluas-luasnya tanpa kendali dan melampui batas dari jalur agama Islam.

Sistem demokrasi, standarnya adalah suara dan asiprasi mayoritas rakyat, bukan standarnya kebenaran Al-Qur'an dan As-Sunnah sekalipun minoritas.

Sistem demokrasi menyetarakan antara pria dan wanita, orang alim dan jahil, orang baik dan fasik, muslim dan kafir, padahal tentu tidak sama hukumnya. (catatan: Bacalah risalah Al-Adlu fi Syari'ah Islam wa Laisa fii Dimoqrotiyyah al-Maz'umah oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hlm. 36-44)

Namun karena di kebanyakan negeri Islam saat ini –termasuk Indonesia- menggunakan sistem demokrasi yang kepemimpinan negeri ditentukan melalui pemilu, maka dalam kondisi seperti ini apakah kita ikut coblos ataukah tidak? Masalah ini diperselisihkan para ulama yang mu'tabar tentang boleh tidaknya, karena mempertimbangkan kaidah maslahat dan mafsadat. Sebagian ulama berpendapat tidak boleh berpartisipasi secara mutlak seperti pendapat mayoritas ulama Yaman karena tidak ada maslahatnya bahkan ada madharatnya (catatan: Lihat Tanwir Zhulumat fi Kasyfi Mafasidi wa Subuhati Al-Intikhobat karya Syaikh Muhammad bin Abdillah al-Imam). Dan sebagian ulama lainnya berpendapat boleh untuk menempuh madharat yang lebih ringan seperti pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin dan lain-lain (catatan: Lihat penjelasan tentang perbedaan pendapat ulama dan argumen masing-masing dalam masalah ini di kitab Al-Intikhobat wa Akamuha fil Fiqih Islami hlm. 86-96 karya Dr. Fahd bin Shalih al-'Ajlani, cet. Kunuz Isyibiliya, KSA), karena "Apa yang tidak bisa didapatkan seluruhnya maka jangan ditinggalkan sebagiannya" dan "rabun itu lebih baik daripada buta".

Maka seyogyanya bagi kita semua untuk bersikap arif dan bijaksana serta berlapang dada dalam menyikapinya. Marilah kita menjaga ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama Islam) dan menghindari segala perpecahan, perselisihan serta percekcokan karena masalah ijtihadiyyah seperti ini (catatan: Perlu diketahui bahwa para ulama kita yang membolehkan ikut mencoblos di Pemilu bukan berarti mendukung sistem demokrasi yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Sebagai contoh adalah Syaikh Abdul Muhsin al-'Abbad, beliau termasuk ulama yang membolehkan jika kemaslahatan menuntut demikian, sekalipun begitu beliau memiliki sebuah risalah khusus yang mengkritisi sistem demokrasi yaitu Al-Adlu fi Syari'ah Islam wa Laisa fii Dimoqrotiyyah al-Maz'umah, Keadilan itu Dalam Hukum Islam Bukan dalam Sistem Demokrasi).

Alangkah indahnya ungkapan Imam Syafi'i kepada Yunus ash-Shadafi:

يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ

"Wahai Abu Musa, Apakah kita tidak bisa untuk tetap bersahabat sekalipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?!" (catatan: Dikeluarkan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam Nubala 3/3281, lalu berkomentar: "Hal ini menunjukkan kesempurnaan akal imam Syafi'i dan kelonggaran hatinya, karena memang para ulama senantiasa berselisih pendapat.")

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga pernah mengatakan:

وَأَمَّا الِاخْتِلَافُ فِي " الْأَحْكَامِ " فَأَكْثَرُ مِنْ أَنْ يَنْضَبِطَ وَلَوْ كَانَ كُلَّمَا اخْتَلَفَ مُسْلِمَانِ فِي شَيْءٍ تَهَاجَرَا لَمْ يَبْقَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ عِصْمَةٌ وَلَا أُخُوَّةٌ وَلَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا سَيِّدَا الْمُسْلِمِينَ يَتَنَازَعَانِ فِي أَشْيَاءَ لَا يَقْصِدَانِ إلَّا الْخَيْرَ

"Adapun perselisihan dalam masalah hukum maka banyak sekali jumlahnya. Seandainya setiap dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah harus saling bermusuhan, maka tidak akan ada persaudaraan pada setiap muslim. Abu Bakar radhiallahu 'anhu dan Umar radhiallahu 'anhu saja—kedua orang yang paling mulia setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam—mereka berdua berbeda pendapat dalam beberapa masalah, tetapi keduanya tidak menginginkan kecuali kebaikan." (Majmu' Fatawa 5/408. )

KEDUA

Bagi siapa yang memilih karena mempertimbangkan kaidah:

يُخْتَارُ أَهْوَنُ الشَّرَّيْنِ

"Menempuh mafsadat yang lebih ringan." (catatan: Lihat kaidah ini dalam Al-Asybah wa Nadhoir hlm. 87 karya as-Suyuthi, Al-Asybah wa Nadhoir hlm. 89 karya Ibnu Nujaim, Al-Qowaid Al-Kulliyyah wa Dhowabith Al-Fiqhiyyah hlm. 183 oleh Dr. Muhammad Utsman Syubair, Al-Mufashol fi Al-Qowaid Al-Fiqhiyyah hlm, 369 karya Dr. Ya'qub Ba Husain)

Maka hendaknya bertaqwa kepada Allah dan memilih partai yang paling mendingan daripada lainnya atau memilih pemimpin yang lebih mendekati kepada kriteria pemimpin yang ideal dalam Islam yaitu al-Qowwiyyu al-Amin, yaitu memiliki skill lagi amanah (catatan: Perhatikan QS. Al-Qoshos: 26. Lihat pula penjelasannya dalam Qowa'id Qur'aniyyah hlm. 109-113 karya Dr. Abdullah al-Muqbil dan as-Siyasah Asy-Syar'iyyah hlm. 29-31 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah), juga tentunya yang memiliki perhatian agama Islam yang baik dan memberikan kemudahan bagi dakwah Ahli Sunnah wal Jama'ah.

KETIGA

Kami mengajak kepada segenap kaum muslimin di manapun untuk menyibukkan diri dengan amal shalih di saat-saat seperti ini serta memperbaiki amal perbuatan kita.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الْعِبَادَةُ فِى الْهَرَجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

"Ibadah di saat fitnah seperti hijrah kepadaku." (HR. Muslim: 2948)

Marilah kita memperbaiki diri dengan menuntut ilmu syar'i, meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena pemimpin sejati itu lahir dari rakyat yang sejati. Dahulu, dikatakan para ulama:

كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ

"Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian." (catatan: Ungkapan ini dijadikan sebagai judul sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani al-Jazairi)

Al-Kisah ada seorang khawarij yang datang menemui Ali bin Abi Thalib seraya berkata, "Wahai khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak di kritik oleh orang tidak sebagaimana pemerintahannya Abu Bakar dan Umar?!" Sahabat Ali Menjawab, "Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang semisalku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu!!" (Syarh Riyadhus Shalihin 2/36 oleh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

KEEMPAT

Hendaknya kita semua tidak meremehkan peran dan kekuatan sebuah do'a kepada Allah pada saat seperti ini. Marilah kita semua bersimpuh dan munajat kepada Allah, agar Allah memilihkan kepada kita pemimpin yang ideal dambaan Islam yang bersemangat membela agama dan peduli kepada rakyat, bukan para pemimpin yang hanya berambisi dengan jabatan dan tidak bertaqwa kepada Allah.

Dahulu, Fudhail bin 'Iyadh mengatakan:

لَوْ كَانَتْ لِيْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلاَّ فِي السُّلْطَانِ

"Seandainya saya memiliki doa yang mustajab, maka saya tidak akan peruntukkan kecuali untuk pemimpin." (Al-Barbahari dalam Syarhu Sunnah hlm. 116-117 dan Abu Nuaim dalam Al-Hilyah 8/91-92)

Sebagaimana kita berdoa kepada Allah agar menyelamatkan kita semua dari fitnah yang menyambar agama dan akal pada saat-saat seperti ini. Abdullah bin Amir bin Rabi'ah berkata: "Tatkala manusia banyak mencela Utsman, maka ayahku (sahabat Amir bin Rabi'ah) melakukan sholat malam seraya berdoa: "Ya Allah, jagalah diriku dari fitnah sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang shalih." Maka ayahku tidak keluar (karena sakit) kecuali ketika meninggal dunia". (Dikeluarkan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 1/178-179 dan Al-Hakim 3/358.)

KELIMA

Hendaknya kita mewaspadai dan menjauhi percikan-percikan pemilu dan pelanggaran-pelanggaran terhadap agama; baik berupa perpecahan, fanatik partai dan golongan, menerima uang suap/sogok (catatan: Lihat penjelasan lebih rinci tentang masalah suap/sogok dalam Jarimah Risywah oleh Dr. Abdullah at-Thariqi), terutama "serangan fajar" karena hal itu diharamkan dalam agama dan terlaknat pelakunya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

"Allah melaknat pemberi suap dan yang disuap."

Komite tetap fatwa dan penelitian keislaman kerajaan Arab Saudi telah menfatwakan haram pemberian dan penerimaan hadiah dari calon yang akan ikut pemilihan legislatif, fatwa no. 7245, yang ditanda tangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz (ketua), yang berbunyi:

Soal: Apakah hukum Islam tentang seorang calon anggota legislatif dalam pemilihan yang memberikan harta kepada rakyat agar mereka memilihnya dalam pemilihan umum?

Jawab: Perbuatan calon anggota legislatif yang memberikan sejumlah harta kepada rakyat dengan tujuan agar mereka memilihnya termasuk risywah (suap) dan hukumnya haram. (Fatawa Lajnah Daimah, jilid XXIII, hlm 541.)

Demikian juga segala bentuk permusuhan dan perpecahan, sangat bertentangan dengan dalil-dalil agama Islam. Imam asy-Syaukani mengatakan: "Persatuan hati dan persatuan barisan kaum muslimin serta membendung segala celah perpecahan merupakan tujuan syari'at yang sangat agung dan pokok di antara pokok-pokok besar agama Islam. Hal ini diketahui oleh setiap orang yang mempelajari petunjuk Nabi yang mulia dan dalil-dalil Al-Qur'an dan sunnah." (Al-Fathur Robbani 6/2847-2848 oleh asy-Syaukani)

KEENAM

Apapun hasilnya pemilu nanti dan siapapun yang menang dan terpilih sebagai pemimpin, maka marilah kita laksanakan kewajiban kita sebagai rakyat yaitu mendengar dan taat kepadanya sebagaimana ajaran Al-Qur'an dan sunnah, selagi tidak memerintahkan kepada maksiat. Jika memerintahkan kemaksiatan maka tidak boleh untuk didengar dan ditaati namun tetap kita tidak boleh memberontak kepemimpinannya.

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَ اْلسَّمْعِ وَ اْلطَّاعَةِ وَ إِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا

"Aku wasiatkan kepada kalian dengan taqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun dia adalah budak Habsyi (orang hitam)" (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/126-127, Abu Dawud 4607, Tirmidzi 2676, Ibnu Majah 42,43 dll, dishahihkan Al-Albani dalam Irwaul Ghalil 2455)

عَلىَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

"Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat." (HR. Bukhari 13/121, Muslim 3/1469)

Marilah kita semua menjaga stabilitas keamanan negara dan menjaga emosi kita tatkala pilihan kita kalah, karena kemanan adalah sesuatu yang harus kita jaga bersama demi terjaganya nyawa, harta dan agama, lebih daripada hanya sekedar membela dan fanatik kepada pemimpin atau golongan tertentu. Para ulama mengatakan:

الْمَصْلَحَةُ الْعَامَّةُ مُقَدَّمَةٌ عَلَى الْمَصْلَحَةِ الْخَاصَّةِ

"Kemaslahatan umum lebih didahulukan daripada kemaslahatan pribadi." (Al-Muwafaqot 6/123 karya asy-Syathibi)

Marilah kita ingat selalu pesan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar kita menghindari segala kekacauan dan tidak terlibat/berkecimpung di dalamnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِى، مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ ، فَمَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِه

"Akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barangsiapa yang mencari fitnah maka dia akan terkena pahitnya dan barangsiapa yang menjumpai tempat berlindung maka hendaknya dia berlindung." (HR. Bukhari 3601 dan Muslim 2776)

Demikianlah beberapa nasehat penting yang ingin kami sampaikan. Semoga Allah menjaga kita semua dari segala fitnah dan membimbing kita semua ke jalan yang diridhoi-Nya. Ya Allah berikanlah kepada kami pemimpin yang engkau cintai dan ridhoi untuk menegakkan agama-Mu dan membela hamba-hamba-Mu dari segala bentuk kezhaliman. Amiin.

***

Penyusun: Ustadz Yusuf bin Mukhtar (penulis adalah pemimpin redaksi Majalah Al-Furqon, Gresik)

Dikoreksi dan setujui oleh: Al-Ustadz Aunur Rafiq Ghufran, Lc. Al-Ustadz Ahmad Sabiq, Lc

Artikel Muslim.Or.Id